October 7th, 2007 Sonny Hidayat post in kategori Gaya Hidup | Comments Off on

VWtambahBMWtambahMusicsama denganSonny Hidayat


Happy 13th Anniversary, 1 August 2002 – 2015

August 1st, 2015 Anak Anak Terang post in kategori Anak Anak Terang, Berita AAT, Gaya Hidup, Hadi Santono, Kabar, Kejadian, TLKM | No Comments »

13 Tahun AAT

Auckland, 1 August 2015

13 years ago, a small group of Moms, decided to do something with the Jakarta¹s street children in Kampung Jembatan in order to provide scholarship for those children. Started with calling several friends, we got a big surprise from our friends and suddenly we got a lot of donation, more than we needed.

The excess donation which are gave to us was a blessing, it should not go to waste. We decided to invite the donors to a group. On 1st of August 2002, we established ³ANAK ANAK TERANG², a group which has mission to provide scholarships for unfortunate children to formal education, not only for children in Kampung Jembatan, but for all Indonesian children.

Now it has blossomed into providing scholarships for more than 4500 students each year, ranging from 1st grade to College, with hundreds of volunteers and thousands of donors, many are the products of this program themselves.

Let’s get involved. A little light in the darkness, bring the bright future to the children. The gift of education will provide a child with dignity that every person deserves to have. Together with Anak-anak Terang, we can help to stop the cycle of poverty now.

Happy Anniversary 13th

ANAK ANAK TERANG

 

Warm regards,

 

Hadi Santono
AAT Indonesia Foundation

Hadi S

Ph.D. Student
Department of Electrical and Computer Engineering
Faculty of Engineering
The University of Auckland, New Zealand
 
Scan the QR Code
 

Bersyukur Menjadi Bagian dari AAT

July 25th, 2015 Anak Anak Terang post in kategori AAT Madiun, Gaya Hidup, Kabar, Kejadian, Kisah Relawan, TLKM, Yeni Puspitasari | No Comments »

Yeni

NAMA SAYA Yeni Puspitasari. Saya biasanya akrab dipanggil Yeni. Saya lahir di kota Nganjuk, Jawa Timur pada tanggal 13 September 1993. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Adik saya perempuan. Jarak usia kami terpaut cukup jauh, yakni 9 tahun. Orang tua saya bekerja sebagai buruh pabrik di Sidoarjo.

Sejak kecil, saya diasuh dan dibesarkan oleh nenek di kota Madiun. Orang tua saya harus pergi karena pekerjaan. Saya diasuh oleh nenek, karena kedua orang tua harus bekerja dan saat itu tidak mampu membayar babysitter untuk mengasuh saya. Alhasil, saya diasuh dan dibesarkan di desa bersama nenek hingga sekarang ini. Adik saya tinggal bersama orang tua di Sidoarjo, sedangkan saya memilih untuk tetap tinggal di Madiun bersama nenek, karena nenek tinggal di rumah sendirian. Tidak sampai hati rasanya jika harus meninggalkan seorang nenek yang sudah merawat saya sejak kecil tinggal di rumah seorang diri.

Masa Sekolah

Memasuki usia sekolah, mulanya saya bersekolah di TK Dharma Wanita Ngadirejo. Saat itu saya baru berusia 5 tahun. Namun, nenek sudah memasukkan saya ke sekolah. Lalu, saya bersekolah di SDN Ngadirejo 02. Kebetulan TK dan SD berada dalam satu lokasi yang sama dan lokasi sekolah tidak terlalu jauh dengan tempat tinggal saya, kira-kira 15 menit jika ditempuh dengan jalan kaki. Kemudian, saya bersekolah di SMPN 1 Wonoasri. Jarak sekolah dengan rumah saya lumayan jauh, sekitar 5 km.

Saat diumumkan kelulusan SMP dan dinyatakan lulus, saya mulai bimbang akan kemanakah saya melanjutkan sekolah. Saya benar-benar bingung antara SMA atau SMK. Saya berpikir, jika sekolah di SMA berarti harus kuliah, sedangkan biaya kuliah sangatlah mahal. Akhirnya, saya mendaftarkan diri ke sekolah swasta, yaitu SMK PGRI Wonoasri dan mengambil jurusan Akuntansi.

Sekolah tersebut terletak di tengah kota Caruban. Jarak sekolah dan tempat tinggal saya sekitar 11 km. Untunglah saat itu saya ada teman untuk berangkat dan pulang sekolah, sehingga bisa sedikit meringankan biaya untuk membeli bensin. Seminggu sekali, kami bergantian untuk mengisi bensin.

Waktu sekolah dulu, saya bersama sahabat saya pernah berjualan kacang bawang. Tiap pulang sekolah kami membuat kacang bawang dan besoknya kami titipkan ke warung-warung. Selain itu, saya juga berjualan pulsa untuk tambahan uang saku, karena jika mengandalkan uang saku dari orang tua sangatlah tidak cukup.

Kelas XI saatnya melakukan Pendidikan Sistem Ganda (PSG). Saya bersama ketiga teman mencari tempat untuk melakukan praktek. Hingga akhirnya, kami berempat diterima PSG di PLN Madiun selama 2 bulan. Dalam waktu 2 bulan saya mendapatkan banyak sekali pengalaman, dari mengarsipan data, entri data tusbung, melayani costumer, dll.

Masa SMA pun segera berakhir. Sambil menunggu ijazah keluar, saya mencoba melamar pekerjaan di sebuah toko pusat oleh-oleh yang berada di kawasan Madiun. Saya diterima di sana dan kontrak awal selama 3 bulan. Awalnya, saya merasa tidak sanggup bekerja selama 10 jam per hari, tapi saya berusaha memberi semangat pada diri saya bahwa saya pasti bisa.

Satu bulan saya bekerja, ayah saya menyuruh saya untuk melanjutkan pendidikan lagi. Akhirnya, saya menyetujuinya dan ayah mengusahakan untuk mencarikan biaya pendaftaran. Saya pun konsultasi dengan guru BK SMK. Menurut beliau, kampus Widya Mandala (WIMA) Madiun adalah kampus yang cukup baik. Akhirnya, saya memutuskan untuk mendaftarkan diri di kampus UNIKA Widya Mandala Madiun dan mengambil program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kedua orangtua saya awalnya tidak setuju kalau saya kuliah di situ. Mereka ingin saya kuliah di perguruan tinggi lain yang ada di Madiun, tetapi saya tetap ingin kuliah di WIMA Madiun.

Awal Mengenal AAT

Jalan Tuhan memang indah. Jika saat itu saya ikut saran orangtua untuk kuliah di universitas lain, mungkin sekarang saya tidak akan mengenal AAT. Saya baru sadar mengapa saat itu saya kekeuh ingin kuliah di Wima, yaitu karena Tuhan punya rencana yang indah buat saya. Hingga akhirnya, saya bisa mengenal yayasan yang begitu hebat, Yayasan Anak-Anak Terang Indonesia.

Pagi itu, tanggal 26 Agustus 2013 adalah hari di mana saya pertama kali mengenal Anak-Anak Terang (AAT). Awalnya, saya ke kampus hanya untuk mengerjakan tugas, tetapi mendengar bahwa ada sosialisasi beasiswa AAT, saya dan teman saya Mbak Rike tertarik untuk mengikuti sosialisasi mengenal beasiswa AAT.

Sebelumnya, saya sudah mendengar ada pengajuan beasiswa dan mahasiswa yang lolos seleksi beasiswa tersebut akan menjadi staf administrasi dan tugasnya adalah mengurus beasiswa untuk anak SD, SMP, dan SMA. Saya tidak mengajukan beasiswa AAT, karena pada saat itu saya sudah mendapat beasiswa Bantuan Belajar Mahasiswa (BBM).

Beberapa teman mengatakan bahwa tidak hanya yang penerima beasiswa AAT saja yang bisa mengurus beasiswa untuk SD, SMP, dan SMA, tetapi yang tidak menerima beasiswa AAT pun boleh membantu. Mendengar hal seperti itu saya tertarik untuk ikut bergabung menjadi relawan AAT.

Saat memasuki ruangan tersebut, saya berkenalan dengan Mbak Chika dan Mbak Alma yang saat itu menjadi koordinator nasional. Saat Mbak Chika menanyakan apakah sudah membuka website-nya AAT, saya jawab belum. Karena saat itu yang saya tahu beasiswa AAT memberikan beasiswa kepada SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Saya belum melangkah lebih jauh sampai membuka website-nya AAT. Setelah Mbak Alma, Mbak Chika, Pak Christ, dan Pak Hadi menjelaskan kepada semua audience yang hadir, saya baru paham apa itu beasiswa AAT.

Dari penjelasan mereka dan dari tanya jawab, saya semakin yakin untuk ikut bergabung menjadi relawan AAT, karena kegiatan di AAT sangat positif.

Bersyukur Menjadi Bagian dari AAT

Setelah resmi bergabung bersama AAT, saya mulai mendapatkan teman-teman baru yang sebelumnya belum saya kenal. Mereka semua baik dan kami saling bekerja sama, saling membantu, dan saling memberikan semangat. Menjadi staf administrasi AAT, saya belajar bagaimana input data anak asuh di SIANAS (Sistem informasi Anak Asuh), bagaimana mengirim bukti transfer dan kuitansi setiap bulannya kepada donatur, dan bagaimana mengirim rapor anak asuh untuk donatur.

Saat survei, saya mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Pengalaman ini tidak pernah saya dapatkan sebelumnya. Ketika wawancara, saya mendengar cerita langsung dari calon anak asuh. Saya merasa sangat bersyukur atas kehidupan saya. Saya sadar, ternyata banyak sekali adik-adik di luar sana yang tidak seberuntung saya. Cerita dan perjuangan mereka semakin membuat saya bersyukur dan bersemangat untuk meraih cita-cita saya, untuk terus membantu sesame, dan terus melakukan yang terbaik untuk orang-orang disekeliling saya dan tentunya untuk AAT.

Menjadi Anak Asuh AAT

Tahun ajaran 2014/2015, saya sudah tidak mendapatkan beasiswa BBM lagi. Orang tua saya juga mulai cemas memikirkan biaya kuliah. Akhirnya, saat di buka pendaftaran beasiswa AAT, saya mencoba untuk mendaftarkan diri.

Saya mengikuti prosedurnya dan melengkapi persyaratan yang telah ditentukan. Alhamdulilah, Allah mendengar doa saya. Saya mendapat beasiswa AAT. Saya sangat bersyukur kepada Allah, karena saya bisa mendapatkan beasiswa lagi. Sehingga, bisa meringankan beban orang tua.

Di AAT ini, saya banyak sekali mendapatkan pengalaman-pengalaman yang berharga. AAT tidak hanya sekedar memberikan beasiswa, tetapi juga pendampingan dan pengembangan diri saya. Contohnya saja saat menjual merchandise AAT, mental harus kuat karena harus menawarkannya kepada orang-orang. Dari situ juga saya belajar ilmu marketing, bagaimana supaya merchandise AAT bisa terjual.

Tidak hanya itu, saya juga berlatih berbicara di depan umum, contohnya saja saat presentasi tentang AAT dan mengenalkan AAT kepada masyarakat. Dan yang tidak kalah penting adalah saya menjadi lebih bersyukur dengan hidup yang telah Tuhan berikan kepada saya. Itu semua menjadikan pribadi dan karakter saya menjadi lebih baik.

Terima kasih kepada Yayasan Anak-Anak Terang dan bapak ibu donatur yang telah membiayai kuliah saya. Semoga kebaikan bapak/ibu donatur di balas oleh Allah SWT. AAT adalah yayasan yang begitu hebat dan di dalamnya terdapat orang-orang yang hebat pula.

 

Yeni Puspitasari
Staf Administrasi AAT Sekretariat Madiun
 

*Yeni adalah salah satu Staf Administrasi AAT Madiun sekaligus anak asuh AAT Tingkat Perguruan Tinggi. Merupakan mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala Madiun, angkatan 2011.

 

Scan the QR Code

 


Be a Special Person in a Special Place

July 24th, 2015 Anak Anak Terang post in kategori AAT Madiun, Gaya Hidup, Kabar, Kejadian, Kisah Relawan, Rike Kotikhah, TLKM | No Comments »

Rike

“Kemenangan adalah milik mereka yang tidak berhenti berjuang.”

Mungkin kalimat itulah yang bisa mewakili perasaan saya saat ini. Perasaan senang, lega, puas, dan perasaan lain yang menunjukkan keberhasilan suatu perjuangan.

Rabu, 8 Juli 2015, menjadi hari yang tidak akan pernah saya lupakan. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya, saya bisa merasakan sidang skripsi. Dulu, bisa sekolah sampai SMK saja, saya sudah sangat bersyukur. Bisa merasakan lulus SMK saja, saya sudah sangat bahagia.

Hari itu, saya berangkat ke kampus lebih awal. Saya yang biasanya telat, berusaha berangkat lebih pagi di hari itu. Sebelum berangkat, semuanya saya persiapkan sebaik mungkin. Empat copy-an skripsi dan satu file presentasi sudah siap. Baju dan jas almamater yang disetrika rapi, sepatu yang dilap bersih, sampai jilbab yang disemprot sedikit minyak wangi. Hari itu, saya harus menampilkan yang terbaik.

Bisa merasakan sidang skripsi adalah hal yang luar biasa bagi saya. Jangankan sidang skripsi, kuliah saja menjadi hal yang tidak pernah saya sangka sebelumnya. Selama perjalanan, saya seolah diajak kembali pada peristiwa-peristiwa tujuh tahun silam tentang bagaimana perjuangan orang tua dan saya untuk bisa merasakan kebahagiaan hari ini.

Perjuangan Dimulai

Lahir dalam keluarga yang sangat sederhana memang bukan pilihan saya. Namun, hal itu tidak pernah saya sesali sedikit pun. Sebaliknya, saya sangat bersyukur karena keadaan tersebut membuat saya menjadi perempuan yang lebih kuat, tidak mudah mengeluh, dan tidak mudah menyerah. Sejak kecil, orang tua selalu mengajarkan sikap pantang menyerah pada saya. Ketika sudah memutuskan sebuah pilihan, kita harus memperjuangkannya sampai berhasil.

Semuanya telah orang tua tunjukkan ketika kami harus memperjuangkan hidup. Orang tua yang bekerja seadanya, membuat kami juga hidup seadanya, makan seadanya, dan tinggal di rumah seadanya. Untuk bisa makan sehari-hari, orang tua saya harus bekerja keras. Karena itulah, pendidikan saya pun hampir terkorbankan.

Dulu, saya hampir tidak melanjutkan sekolah ke SMK karena tidak memiliki biaya. Setelah kelulusan, saya menangis sejadi-jadinya di kamar karena takut tidak bisa melanjutkan sekolah. Melihat keinginan kuat saya untuk terus sekolah, membuat orang tua saya merasa iba dan berusaha keras mencarikan biaya. Bapak yang hanya sebagai tukang kebun dan Ibu yang hanya sebagai baby sitter berjuang mengumpulkan uang dan meminjam uang ke saudara agar saya tetap bisa sekolah. Sulitnya untuk bisa mengenyam pendidikan, membuat saya tidak malas belajar dan selalu mendapatkan prestasi yang baik di sekolah. Hingga lulus SMK, saya tetap mendapatkan nilai yang memuaskan.

Melihat teman-teman saya banyak yang mendaftar ke perguruan tinggi, membuat saya ingin merasakan hal yang sama. Namun, saya menyadari bagaimana kondisi keuangan keluarga kami saat itu. Sehingga saya tidak berani mengungkapkan keinginan saya pada orang tua.

Tapi, saya tidak bisa begitu saja mengubur keinginan untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Saya memutar otak dan mencari cara agar bisa mewujudkan keinginan tersebut. Saya sempat berpikir untuk bekerja dulu ke luar negeri, menjadi TKI, agar bisa mendapatkan uang yang banyak untuk bisa kuliah. Namun, mendengar kontrak kerja yang cukup lama, saya membatalkannya. Dan akhirnya, saya memilih untuk bekerja di Jakarta.

Selama di Jakarta, saya bekerja menjadi penjaga kasir di sebuah warung makan kecil, tepatnya di daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan. Di sana, saya mengumpulkan uang untuk bisa kuliah. Setelah 7 bulan bekerja, uang terkumpul Rp 2.700.000,00 dan saya siap pulang untuk kuliah. Namun, ternyata biaya pendaftaran untuk kuliah saat itu sekitar 4 juta. Saya sedih, ternyata uang saya tidak cukup. Mau meminta orang tua, rasanya tidak tega. Mereka sudah terlalu banyak berkorban untuk saya.

Lalu, seorang teman menyarankan untuk kuliah di Universitas Terbuka saja karena biayanya lebih murah. Namun, saya tetap bersikukuh untuk memilih Universitas Widya Mandala Madiun. Menurut teman yang sudah kuliah di sana, universitas tersebut merupakan universitas yang cukup bagus di Madiun. Akhirnya, dengan terpaksa saya bekerja lagi supaya uangnya bisa tercukupi.

Keep Fight

Kemudian, saya pun melamar kerja di sebuah pabrik seafood di Surabaya. Di sana, saya menjadi buruh pabrik dengan gaji Rp1.100.000,00 tiap bulannya. Dengan gaji pas-pasan itu, saya hanya bisa menyisihkan Rp200.000,00 tiap bulannya, karena saya harus membagi gaji tersebut untuk biaya makan sehari-hari dan biaya kos.

Setahun kemudian, saya pulang dengan membawa uang sekitar Rp2.400.000,00. Jika digabung dengan gaji saya tahun sebelumnya, uang tersebut sudah cukup untuk biaya pendaftaran. Saya tidak peduli dengan biaya semester selanjutnya. Yang terpenting saat itu adalah saya bisa kuliah dulu. Masalah biaya selanjutkan bisa dicari lagi, entah bagaimanapun caranya. Begitulah yang saya pikirkan saat itu.

Awal kuliah berjalan dengan lancar. Namun, memasuki semester dua saya mulai bingung dengan biaya kuliah. Saya kembali memutar otak supaya tetap bisa kuliah. Lalu, ibu pun mengantar saya untuk melamar kerja di warung makan di daerah Caruban. Di sana saya bisa bekerja paruh waktu, namun hanya di hari-hari tertentu saja. Gajinya memang tidak banyak, tapi setidaknya bisa meringankan beban orang tua yang harus ikut membiayai kuliah saya.

Demi bisa tetap kuliah, saya berusaha keras mencari biaya. Dari mulai bekerja paruh waktu, mengajukan beasiswa kurang mampu, mengisi les, sampai menjadi Liaison Organizer (LO) saat PORPROV JATIM telah saya lakukan. Bersyukur sekali pada saat semester tiga saya mendapatkan beasiswa kurang mampu selama satu semester. Semester lima dan enam saya mendapat beasiswa prestasi dan di semster tujuh sampai delapan mendapatkan beasiswa dari Yayasan Anak-Anak Terang.

Be a Special Person in a Special Place

Saya sangat bersyukur bisa kuliah di Unika Widya Mandala Madiun. Di universitas tersebut, saya mendapatkan banyak pengetahuan, pengalaman, dan kesempatan untuk mengembangkan diri. Selama kuliah, saya tidak hanya belajar untuk mendapatkan ilmu, tapi juga belajar bagaimana mengaplikasikan ilmu tersebut dalam kehidupan kita. Sama seperti semboyan Unika Widya Mandala Madiun yang berbunyi, “Non scholae sed vitae discimus” yang berarti kita belajar bukan hanya untuk ilmu tapi juga untuk kehidupan. Di sana, kita tidak hanya belajar teori saja, tapi juga belajar bagaimana menjadi seorang yang humanis, yang memperjuangkan terwujudnya pergaulan hidup yang lebih baik, yang mengabdi untuk kepentingan sesama.

Selain itu, di sana saya juga mendapat kesempatan untuk mengembangkan diri. Saya bisa merasakan pengalaman menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), bisa merasakan menjadi Wakil Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), bisa ikut banyak kegiatan kampus yang positif. Dan di sana juga, tempat saya pertama mengenal Yayasan Anak-Anak Terang (AAT) Indonesia, yayasan yang sudah memberi saya beasiswa dan juga memberi saya banyak kesempatan untuk menemukan dan mengembangkan potensi saya yang terpendam, yaitu potensi dalam bidang jurnalistik.

Sebelum mengenal AAT, untuk menulis satu paragraf saja saya memerlukan waktu berjam-jam. Saya merasa benar-benar tidak punya kemampuan di bidang ini, meskipun jurusan saya Bahasa Indonesia. Saat itu, saya lebih memiliki kemampuan untuk berbicara di depan umum. Namun, setelah “dipaksa” menulis di AAT, kemampuan saya mulai terasah. Bahkan, saya tidak hanya diminta untuk menulis, tapi juga menyunting tulisan para relawan lain. Awalnya saya tidak yakin, namun saya terus belajar hingga tidak terasa sudah puluhan cerita yang sudah saya edit. Berkat kemampuan editing yang cukup baik, saya sampai mendapatkan job mengedit beberapa naskah buku yang honornya bisa untuk biaya keperluan kuliah dan untuk uang saku. Bahkan, saya tidak hanya mendapatkan honor, tapi juga mendapatkan buku-buku tentang penyuntingan dan ilmu editing langsung dari ahlinya. Terima kasih untuk Pak Anang YB yang sudah membantu dan dengan sabar mengajari saya.

Berkat AAT, saya tidak hanya bisa tetap kuliah dan bisa sidang skripsi seperti sekarang, tapi juga bisa mengembangkan diri, mendapatkan pengalaman yang sangat berharga, dan tentunya saya mendapatkan ribuan saudara baru. Di AAT, saya merasa menjadi seseorang yang istimewa di tempat yang istimewa.

Karena memiliki keluarga baru di AAT, Keberhasilan saya sidang skripsi menjadi kebahagiaan banyak orang. Selesai sidang, banyak sekali ucapan selamat dari sahabat-sahabat AAT. Dari pengurus, pendamping, donatur, para relawan, mereka ikut merayakan keberhasilan saya. Kebahagiaan saya menjadi berlipat ganda. Terima kasih semuanya. Berkat sahabat AAT semua, saya bisa merasakan kebahagiaan ini. Keberhasilan saya saat ini, tidak terlepas dari dukungan dan bantuan para pengurus, pendamping, donatur, teman-teman relawan, dan sahabat AAT lainnya. Terima kasih Pak Christ, KakCan Santi Widya, Pak Marcel, Om Adhi, Om Incon, Tante Nia, Om Ferry, Bruder Konrad, CSA., Om Mele, Pak Greg, Bu Lies, Pak Hadi, Tante Fransisca, Bruder Konrad, CSA., Bruder Neri, Bruder Yakobus, Tiara, Emmy, Intan, Andika, Vena, NuCan Dea, Mbak Yohana, NuCan Ica, dan semua yang sudah mendukung dan membantu saya. Terima kasih keluarga besar AAT.

Memang, perjuangan saya belum berakhir. Setelah ini, tantangan lebih berat menanti. Sudah saatnya saya menapaki dunia baru yang membutuhkan perjuangan yang lebih besar. Namun, saya tidak akan pernah menyerah. Saya akan terus berjuang hingga kesuksesan berada di genggaman.

 

Rike Kotikhah, relawan AAT Sekretariat Madiun

 

Scan the QR Code

 


Pembatasan Akses SIANAS dan Info Terkait Tahun Ajaran 2015/2016

July 1st, 2015 Anak Anak Terang post in kategori Anak Anak Terang, Berita AAT, Gaya Hidup, Kabar, Kejadian, TLKM | No Comments »

Yth. Bapak/Ibu Sahabat AAT

Terkait sudah berakhirnya Tahun Ajaran 2014/2015 pada 30 Juni kemarin, dan masuknya Tahun Ajaran baru 2015/2016, maka kami memberikan beberapa pengumuman penting. Mohon dapat menjadi perhatian Bapak/Ibu demi kelancaran Beasiswa AAT.

A. Pembatasan Akses SIANAS

Akses ke SIANAS (Sistem Informasi Anak Asuh) AAT akan ditutup sementara bagi donatur mulai tanggal 6 Juli 2015 dalam rangka update database anak asuh. SIANAS dibuka kembali untuk Donatur pada tanggal 13 Juli 2015. Pada tanggal 13 Juli 2015 ini, Bapak/Ibu sudah dapat melakukan pengambilan anak asuh yang baru.

B. Perpanjangan Donasi Otomatis

Kami infokan bahwa SIANAS akan meneruskan donasi secara otomatis, yaitu donasi yang sama seperti yang tercatat pada tahun ajaran 2014/2015 untuk 1 tahun ajaran berikutnya. Selain itu, pembayaran SPP anak asuh untuk tahun ajaran 2015/2016 sudah akan dimulai pada 1 Juli 2015.

Terkait hal ini, jika karena suatu sebab bapak/ibu tidak bersedia melanjutkan donasi untuk tahun ajaran baru 2015/2016 maka mohon menyampaikan kepada Admin SIANAS dengan mengirim email ke beasiswa@aat.or.id paling lambat tanggal 15 Juli 2015.

C. Donatur Menunggak

Perlu diketahui saat ini masih ada ratusan donatur yang menunggak pembayaran SPP anak asuh. Tentu hal ini akan berdampak pada kelangsungan studi siswa terkait. Maka kami mohon bila ada diantara bapak/ibu belum melunasi kewajiban transfer SPP, harap segera mengakses SIANAS untuk membereskan tunggakan.

Demikian informasi dari kami. Kepedulian Bapak/Ibu Sahabat AAT membuat anak-anak kurang mampu dapat terus bersekolah.

 

Salam hangat,
Pengurus Yayasan AAT Indonesia
 
Scan the QR Code
 

Key of Life

April 13th, 2015 Anak Anak Terang post in kategori AAT Madiun, Gaya Hidup, Kabar, Kejadian, Kisah Relawan, Rike Kotikhah, TLKM | No Comments »

Rike

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” 

Hadits Rasulullah SAW itulah yang selalu membuat saya semangat untuk terus berbuat baik pada sesama. Begitu pun ketika memutuskan untuk bergabung menjadi relawan AAT, tepat pada tanggal 25 Agustus tahun lalu. Saat itulah saya memutuskan untuk mencurahkan tenaga dan pikiran saya untuk yayasan yang peduli pendidikan di Indonesia itu.

Tidak terasa, dua tahun sudah saya menjadi bagian dari keluarga besar AAT. Ya, keluarga besar dengan semangat kepedulian yang tinggi. Begitu banyak pengalaman, ilmu, dan pelajaran-pelajaran berharga yang saya dapatkan. Tak ubahnya sebuah keluarga, saya mendapatkan curahan kasih dan perhatian dari saudara-saudara di AAT. Mereka selalu menawarkan tangan ketika saya membutuhkan pertolongan dan menawarkan bahu ketika sedang kesusahan.

Padahal, niat pertama saya ketika bergabung bersama AAT adalah untuk menyumbangkan tenaga dan pikiran saya untuk membantu anak-anak yang kurang mampu. Karena saya tahu, saya adalah bagian dari mereka. Saya pernah merasakan apa yang mereka rasakan. Susahnya membayar uang sekolah, susahnya membeli buku-buku pelajaran, bahkan sampai susahnya membeli jajan ketika bel istirahat berbunyi. Saat di mana anak-anak bersorak untuk segera mengisi perut setelah mengikuti pelajaran. Memang, saya belum bisa membantu mereka secara finansial. Karena saat ini pun, saya masih dalam perjuangan. Berjuang untuk terus bisa mengenyam pendidikan. Namun, dengan segala kekurangan saya, saya masih ingin memberi manfaat bagi mereka. Melalui AAT, saya bisa berbagi sedikit tenaga dan pikiran saya untuk membantu pengelolaan beasiswa yang diberikan pada anak-anak sekolah dari tingkat SD, SMP, sampai SMA/SMK. Rasa syukur selalu saya ucapkan ketika tangan saya masih dibolehkan untuk membantu sesama.

Lebih bersyukur lagi ketika saya mendapatkan kesempatan untuk bertemu langsung dengan anak asuh maupun calon anak asuh ketika survei dan wawancara. Survei dan wawancara langsung adalah salah satu prosedur penerimaan beasiswa AAT. Hal itu supaya donasi AAT tidak salah sasaran dan anak yang dibantu benar-benar anak yang membutuhkan.

 

RikeAAT tidak pernah membedakan dalam membantu. Agama apapun, suku apapun, daerah manapun, jika memang membutuhkan pasti dibantu. Semua itu menginspirasi saya untuk terus peduli tanpa membeda-bedakan. Relawan, pengurus, maupun donatur AAT pun juga berasal dari berbagai agama, suku, dan daerah. Bahkan donaturnya juga ada yang berasal dari luar Indonesia. Semua bahu-membahu menyelamatkan pendidikan di Indonesia. Sungguh, saya bersyukur menjadi bagian dari mereka. Mereka telah mengajarkan kepada saya tentang kekuatan berbagi dan peduli.

Sesungguhnya, semangat berbagi dan peduli sudah ditanamkan dalam diri saya sejak kecil. Kedua orang tua sayalah yang dengan sabar menanam dan merawat benih kepedulian dalam diri saya. Sejak saya kecil, orang tua saya selalu mengajarkan saya untuk mau berbagi, sekalipun kami dalam kekurangan. “Sekecil apapun rezeki, harus disisihkan untuk sesama.

Awalnya saya kesal. “Kita saja dalam kesusahan, kenapa masih harus berbagi?” pertanyaan dalam hati ini tidak pernah mendapatkan jawaban dari orang tua saya. Selama bertahun-tahun mereka mengajarkan kepada saya untuk terus berbagi. Bukan dengan kalimat-kalimat motivasi maupun kata-kata mutiara, namun dengan tindakan langsung tanpa memberitahu apa maksudnya. Dari mulai berbagi makanan, beras, air minum, pakaian, bahkan uang satu-satunya pun akan mereka berikan jika orang lain memang lebih membutuhkan. Semua itu mereka lakukan, mereka ajarkan kepada saya, sampai saat ini.

Hingga suatu hari, tepat di tanggal 12 Juli 2014, saya menyaksikan sendiri. Seorang perempuan yang hanya bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan gaji sekitar Rp 400.000,00 per bulan, menyerahkan sebagian uangnya untuk empat orang nenek-nenek. Perempuan itu menyerahkan uang Rp 100.000,00 kepada salah satu nenek dan meminta nenek itu untuk membaginya dengan tiga nenek yang lain. Semua terjadi di depan mata saya. Saya melihat langsung sebuah pelajaran yang sangat berharga. Meskipun hidupnya berkekurangan, perempuan itu tidak pernah lelah untuk berbagi. Baginya, untuk bisa berbagi, tidak harus menunggu kaya dahulu. Sekarang, saat ini juga, kita bisa melakukannya. Dan saat itu, saya hanya bisa tersenyum bangga disela tetesan airmata. Karena perempuan itu adalah ibu saya. Perempuan yang selama ini mengajarkan saya untuk berbagi dan peduli. Mengajarkan saya untuk selalu menawarkan tangan untuk membantu sesama. Hingga saya pun menemukan jawaban atas kegundahan hati saya.

“Hidup kita memang selayaknya untuk orang lain. Tangan kita, kaki kita, semua Tuhan ciptakan untuk menolong sesama. Menjadi manfaat, menjadi berkat, adalah kunci bahagia kita.”

 

Rike Kotikhah*
Relawan AAT Sekretariat Madiun 

*Rike Kotikhah adalah mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala Madiun angkatan 2011. Merupakan relawan AAT sekaligus salah satu anak asuh AAT tingkat perguruan tinggi.

 

Scan the QR Code