Re-Invention [F1]

Saat menuliskan ucapan terimakasih dalam buku tesisku dalam bidang Manajemen Teknologi Informasi, aku menempatkan Larry Page dan Sergey Brin dalam urutan nomor satu dengan pertimbangan sangat matang.

Aku pernah melakukan penggalian informasi yang mirip sekali dengan penggalian informasi waktu penyelesaian tingkat pendidikan Master ini yaitu waktu menyelesaikan pendidikan sarjana S1 dengan tajuk Transparent Bridge pada tahun 1995 sampai dengan 1996. Namun demikian banyak sekali yang membedakan proses penggalian informasi pada jaman kelulusan S1 dahulu dengan jaman bantuan Larry Page dan Sergey Brin ini. Kalau saja pada saat aku menyelesaikan S1 dahulu, Google sudah semantap sekarang pastilah my Transparent Bridge dapat selesai jauh lebih awal. Pada saat itu Yahoo yang lebih ’feminin’ adalah pilihan terbaiknya.

Larry Page dan Sergey Brin dengan Google adalah apa yang aku sebut dengan mega Re-invention. Tidak seperti Albert Einstein yang -aku suka mengistilahkannya- seperti Tuhan, menciptakan dan merumuskan sesuatu dari nol dan hampir tanpa pertanda (sebagai reminder Isaac Newton masih mempunyai alat bantu untuk mengenali rumusannya yang terkenal), sedangkan temuan Albert Einstein justru sebaliknya, kejadian di alamlah yang berjalan seperti rumusannya ! Kalau sekarang aku mengadakan worlwide poll untuk menanyakan siapa penemu yang yang terbesar mungkin jawabnya adalah Albert Einstein atau Isaac Newton.

Meskipun demikian dengan mega Re-invention ini sekarang mampu untuk menempatkan 2 bujangan muda (33 tahun dan 34 tahun – keduanya lebih muda dari aku) pendiri Google sebagai manusia terkaya no 26 dalam urutan Forbes

Google FounderMengapa aku menyebutnya dengan mega Re-invention? Karena apa yang mereka lakukan adalah betul-betul sesuatu yang banyak dari kita manusia Indonesia mampu untuk melakukannya. Mereka tidak menemukan rumusan kimia baru untuk mengganti air menjadi minyak bakar misalnya. Mereka dengan usaha kerja kerasnya mampu untuk menemukan kembali dan mempadu-padankan fungsi utama dari temuan-temuan mayor dalam bidang teknologi informasi. Aku suka membayangkan bahwa apa yang dilakukan oleh Larry Page dan Sergey Brin mirip anak kecil yang sangat jago bermain Leggo dengan hasil bentuk sebesar dan serumit sebuah supercarrier Kapal Induk USS Kennedy pada versi release-nya.

Ada banyak celah bagi kita untuk melakukan sebuah re-Invention yang similar. Cuma kadang kala kita sudah cukup puas dengan apa yang sudah ditemukan orang untuk kita dan seringkali merasa bahwa semua temuan ’sudah’ ditemukan ! Bagi yang suka dan cenderung berpikiran demikian, re-invention adalah satu solusi untuk menyusul Larry Page dan Sergey Brin pada urutan 27 manusia terkaya versi Forbes. Aku sendiri tidak terlalu berlalu berminat untuk nyusul ke peringkat 27-nya. Tetapi re-invention merupakan satu ide yang cukup baik.

Ketika aku melihat di Plaza Senayan ada counter kecil berjualan (atau lebih pas disebut re-selling juga 🙂 ) nada dering telepon untuk mengganti nada dering HP kita, aku sudah menemukan satu re-invention. Ketika aku menjelajah ke situs http://www.glodokshop.com aku juga sudah menemukan satu lagi re-invention ini.

Kadang untuk memulai proses re-invention juga kita ndak tahu dari mana harus memulainya. Aku sudah memulainya, dan semakin dijalankan, ternyata bukan hasil akhir dari re-invention ini yang menyenangkan. Justru proses dalam melakukan re-inventing itulah yang lebih mengasyikkan. It’s the process not the result. Aku sudah memulainya? Ya. Caranya?

Digg !! Gali !! Cari semua informasi yang dibutuhkan.Saat kita membeli (misal versi resmi) Microsoft Word, berapa prosen fungsi utama dari aplikasi itu yang kita manfaatkan? Sering kali kita tidak mau baca help. Sangat sederhana, namun fantastis. Ketika kita menemukan satu terminologi yang ’blank’ di otak kita, kita cuman melewatkannya. Kenapa ndak cari jawabannya?

Kadang memulainya hanya butuh menekan tombol F1 !!!


Tinggalkan pesan/komentar