Internet = Konser Bono ?

Internet = Konser Bono ? Masak sih ?

Emang di internet kalo pinter2 searching-nya mungkin masih bisa nemuin You Tube video yang nampilin Bono (U2) dalam konser terakhirnya. Emang sih ndak senikmat waktu head banging aselinya kalo waktu nonton konser. Tapi masih oke punya lah kalo cuman pingin dengerin lagunya U2.

Tapi yang aku maksud dengan title diatas adalah, untuk Indonesia, title diatas benar adanya. Bahkan agak lebih parah, Bono sudah sangat mendunia, mungkin untuk level Indonesia, title diatas harusnya Internet = Konser Siti Nurhaliza

Apa sih maksudnya?

Maksudnya adalah di lingkungan Indonesia dengan tingkat pendidikan yang masih cukup minim dan dibawah rata-rata Asia, Internet masih merupakan barang mewah seperti halnya konser musik atau produk komersial seni lainnya (karena aku sendiri berpendirian bahwa seni tidak berhubungan dengan kekayaan tetapi lebih kepada apresiasi budaya). Ndak perlu harga tiketnya Bono kalo lagi mau manggung di Senayan misalnya yang pasti harga tiketnya bisa cukup mahal, harga tiketnya Siti Nurhaliza aja kalo dibikin untuk all segmen, maka hanya segmen pengakses Internet aja yang juga bisa capable untuk beli tiketnya konser Siti. Yang lainnya … no way.

Sedemikian parahnya kah apresiasi kita terhadap budaya?

Kalau jawabannya dicari di kelas belajar sekolah SD kelas V atau mungkin SMP? Jawabannya pasti tidak. Di sana Indonesia masih merupakan bangsa yang [sangat] beradab, sopan santun, ramah kepada pendatang, berbudaya tinggi … 🙁

Tapi kalau jawabannya dicari di kalangan komunitas seniman, atau para intelek muda …. jawabannya akan lain sama sekali. Aku sendiri memilih jawabannya adalah IYA. Separah itulah kehidupan apresiasi kita terhadap budaya.

Aku tidak mempunyai angka pastinya [??], tetapi porsi pendapatan yang dapat disisihkan oleh masyarakat Malaysia atau Singapura misalnya pastilah lebih tinggi dari kita. Sehingga apresiasi terhadap produk seni [komersial] bisa berjalan saling mendukung. Bagaimana dengan masyarakat kita, sedikit sekali dari porsi pendapatan itu yang bisa digunakan untuk membiayai apresiasi produk seni [komersial], semuanya habis digunakan untuk basic need atau next priority list in daftar belanjaan mereka …. belum sampe ke Bono ticket….

Dan kenapa aku bilang hal ini parah, dalam jangka panjang, meskipun manusia-manusia pekerja ini nantinya mulai mampu untuk menghasilkan pendapatan lebih. mereka juga tidak membiasakan anak-anak atau generasi mereka berikutnya untuk dapat berapresiasi terhadap seni. Yang anak-anak kita tahu adalah bagaimana caranya untuk menjadi pegawai pabrik yang baik 🙁

Closed for Art part

Sekarang Internetnya. Internet dalam konteks ini aku tempatkan sebagai pendidikan lanjut (dengan capability yang sangat hebat). Dalam banyak tempat di Indonesia, Internet mungkin sudah mulai bisa dinikmati di banyak tempat. Dengan harga Siti Nurhaliza kelas festival :-) Namun kembali ke masalah kemampuan finansial tadi, basic need yang lain masih mengambil porsi mendekati 100%. So Internet biarkan menunggu 🙁

Yang sudah mampu namun belum sempat menunaikannya (kayak ibadah haji aja ya :-) ?), lebih disebabkan mereka pada waktu kecil tidak pernah ditanamkan perlunya ilmu ini seperti juga apresiasi Siti Nurhaliza tadi ……………..

Jadi ……..

Menjadi internet sales ternyata dalam kenyataannya di Indonesia adalah menjadi pengajar internet juga.

Aku menikmatinya :-)


Tinggalkan pesan/komentar

«