Swimmer vs. Diver

Perenang vs. Penyelam

Minggu lalu kepala kantor dimana perusahaan tempat aku bekerja menceritakan panjang lebar pengalamannya memimpin kantornya. Dalam kondisi dimana persaingan industri telekomunikasi Indonesia sangat-sangat-sangat terbuka dan kompetitif, segala usaha dilakukan provider. Baik yang halal, separuh haram, bahkan yang haram pun telah mulai dijelajahi. Semua celah regulasi yang lemah dan terbuka telah dimanfaatkan oleh semua pemain telekomunikasi besar.

Memang tidak bisa disangkal bahwa bisnis telekomunikasi ini mempunyai potensi keuntungan yang sangat besar [selain tentu saja bisnis perbankan dan -sialnya- rokok] . Namun -satu contoh- menetapkan harga tarif usage Rp. 0 adalah satu hal yang betul-betul mencerminkan persaingan industri dalam negeri. Keunggulan kompetitif dari penyedia layanan betul-betul digali sampai dengan keraknya yang terdalam.

Namun demikian tidak bisa ditangkal pula dalam persaingan belantara industri telekomunikasi tersebut, di dalam masing-masing perusahaan tersebut masih terdapat pula persaingan-persaingan internal dan personal dari para karyawannya. Baik itu untuk meninggikan derajat sosial pribadinya (to get better rank in the society – manusiawi) ataupun untuk memperoleh jabatan lebih tinggi di perusahaannya.

Dalam strategi bisnis yang benar, tentunya karyawan dengan kompetensi tertinggi adalah yang paling pas untuk mendapatkan penghargaan dan kesempatan memimpin perusahaan. Namun, kepala kantor dimana aku bekerja bilang. Real life tidak berjalan searah garis lurus. Banyak contoh nyata bahwa seorang perenang -diukur dari segi kecepatan masih lebih lambat dari seorang penyelam- mempunyai peluang yang jauh lebih besar untuk mendapatkan penghargaan dan kesempatan menjadi pemimpin karena seorang perenang mampu untuk melaju dan menciptakan riak indah yang dapat dengan mudah dilihat secara kasat mata. Bahkan semakin besar riak yang ditimbulkannya makin besar pula perhatian tertuju kepadanya, meski secara hukum fisika akan semakin memperlambat gaya majunya karena gaya geseknya makin besar.

Seorang penyelam yang melakukan semuanya dengan usaha maksimal mencapai kecepatan tertinggi dan menahan napas lebih lama di dalam air, tetapi tidak mampu untuk mempersembahkan riak indah yang dapat dengan mudah dilihat. Meski demikian dari segi performansi, ia jauh lebih cepat untuk mencapai goalnya.

Diakui pula, memang dalam kondisi tertentu, cipratan riak ini dibutuhkan untuk memberikan semangat buat penonton dan untuk show off force. Tapi dalam kondisi persaingan sedemikian berat aku sendiri memilih mempunyai banyak penyelam daripada perenang :-) Atau ……………….. memang seseorang tidak bisa/seharusnya mutlak menjadi perenang atau seorang penyelam, mungkin yang terbaik adalah banyak menyelam dan kadang menimbulkan riak ketika kita mangambil napas.

Tapi apapun yang terjadi tendensi/kecenderungan memang secara alami akan terjadi dan aku akan cenderung memilih lebih banyak menyelam daripada berenang [di kantor tempat aku bekerja ’sepertinya’ perenang masih merupakan icon terbaik untuk menjadi figur pemimpin] 🙁

Semoga napas masih kuat untuk menyelam ….. kalau tidak ya terpaksa aku akan banyak berenang [dan efeknya adalah semakin cepat menjadi pemimpin] …. :-)


1 Respon untuk “Swimmer vs. Diver”

  1. kalo menurut saya Pak, swimmer or diver adalah sebuah aktualisasi orientasi pribadi kita sebagai manusia,

    jika kita sendiri menilai sebuah prestasi dalam kehidupan adalah apa yang ORANG persepsikan tentang kesuksesan diri kita maka tipikal swimmerlah yang kita aktualisasikan,

    namun jika kita sendiri menilai sebuah prestasi dalam kehidupan adalah apa yang KITA persepsikan tentang kesuksesan diri kita maka tipikal diverlah yang kita aktualisasikan,

    dari pandangan saya .. sama dengan ketika Einstein berkata keberuntungan adalah sebuah kondisi yang tercipta ketika kemampuan bertemu dengan kesiapan, maka kebaikan (baca : keberuntungan) dari diver and swimmer ini dalam diri kita juga akan muncul ketika kita mampu menemukan ritme, kapan swim kapan dive yang tentu saja bergantung pada kemampuan kita menemukenali faktor2 dalam lingkungan kerja kita

Tinggalkan pesan/komentar