RPM versus .deb (atau tarball saja)

Pada waktu dahulu sekali aku mulai menggunakan Unix like (termasuk Linux sebagai turunannya) sekitar delapan tahun yang lalu, dimana Linux distribusi masih belum se GUI (Graphical User Interface) sekarang, ada beberapa pilihan untuk melakukan instalasi software atau aplikasi ke dalam sistem operasi Linux box.

Pada saat itu RedHat (si topi miring) dan Mandrake (plus beberapa Linux box lain semisal SuSe or Slackware) mempergunakan paket installer dalam bentuk .rpm atau kalau malah aplikasinya butuh kastemisasi lanjut maka lebih disukai menggunakan tarball (source code installer) untuk melakukan instalasi secara utuh. Jika sudah menggunakan desktop GUI, maka .rpm akan menjadi pilihan utama (dengan apa yang terjadi di belakang layar cukup gelap, karena user -mungkin- tidak tahu pasti dimana letak file-file installer ini akan diletakkan). Secara prinsip Linux box memang masih butuh expertise khusus pada waktu itu.

Dengan menggunakan tarball, ada beberapa langkah manual yang harus dilakukan untuk meyakinkan bahwa aplikasi jadi akan ‘selalu’ sesuai dengan konfigurasi Linux box kita. Langkah paling terkenal adalah ;

./configure
./make
./make install

dan selanjutnya kita tahu pasti dimana file-file kita akan berada dan harus juga melakukan setting konfigurasi lanjut supaya aplikasi dapat mulai kita gunakan.

Saat ini dimana hampir semua Linux distribusi sudah menggunakan GUI tingkat lanjut (Gnome dan KDE), maka .rpm dan .deb via GUI sudah menjadi pilihan utama dengan kelebihan file instalasi berada cukup mudah untuk dilakukan trace back.
Hampir tidak ada aplikasi tambahan Linux box yang tidak dapat diinstall menggunakan GUI + installer (.rpm dan .deb) sehingga tarball saat ini sudah semakin tidak populer. (Taspi meski demikian aku masih belum juga menemukan paket .rpm atau .deb untuk Apache+PHP yang langsung support koneksi ke Oracle, jadi untuk PHP koneksi Oracle aku masih harus compile tarball juga).

Debian (.deb) sebagai paket instalasi turunan dari Linux distribusi Debian Core, secara perlahan tapi pasti mulai menjadi pilihan karena saat ini Ubuntu (termasuk Blankon) dan Debian Core merangsek menjadi pilihan primer Linux box selain OpenSuse, Fedora atau Centos.

Kalau dilihat sekilas pertambahan manusia yang murtad dari Windows/Mac menuju ke Linux box aku perkirakan sebanyak 3.700 OS per hari ke RPM popular based (Fedora, OpenSuse, Centos) dan sekitar 4.100 OS ke RPM Debian Based (mostly Ubuntu dan Debian). Semuanya berharap tidak lagi menyentuh instalasi tarball (dan kemungkinan dapat terpenuhi).

Pengalaman konversi Windows XP menjadi latest OpenSuse dan Ubuntu memang semudah mengkonversi dari Windows XP ke Vista, dengan keindahan grafis yang tidak kalah dengan Vista dan MacBook Air. Semua instalasi dengan menggunakan GUI, semua koleksi aplikasi sudah tersedia secara utuh dalam repository masing-masing. Kesulitan yang terjadi kemungkinan akan terjadi kalau kita memang ‘sangat suka’ untuk melakukan bongkar pasang aplikasi baru. Dan beberapa aplikasi old fashioned yang tidak termaintain mengharuskan kita untuk balik lagi ke tarball.

Jadi, kalau sudah tertarik untuk mengkonversi ke Linux box, tentukan pilihan dahulu…
Seperti fotografer memilik kamera, mau menggunakan mashab Canon atau Nikon ?
Kita mau memilih ke mana RPM atau Debian based ?

Keduanya sama mudahnya, keduanya sama indahnya, dan keduanya sama murahnya…..


Tinggalkan pesan/komentar