The Road to Reality

September 15th, 2007 admin post in Kategori Bhawikarsu, TLKM | Comments Off on The Road to Reality |

But you have to admit it: it’s darn too hard to write a good blog entry if you have a terrific book beside you to read now. Or worse, if you have more than one. It is what exactly happening to me now: having some curious untouched books, but with only one or two minutes to explore them all. I chose to read them. Discussing them will have to wait for the next leisure time, if it will even happen in my lifetime (hehe).

So, here’s my first book: The Road to Reality, by Roger Penrose. I have no time to discuss it now. But as Amazon cited, this may be the most complete mathematical explanation of the universe yet published, and Roger Penrose richly deserves the accolades he will receive for it. That said, let us be perfectly clear: this is not an easy book to read. The number of people in the world who can understand everything in it could probably take a taxi together to Penrose’s next lecture. Still, math-friendly readers looking for a substantial and possibly even thrillingly difficult intellectual experience should pick up a copy (carefully–it’s over a thousand pages long and weighs nearly 4 pounds) and start at the beginning, where Penrose sets out his purpose: to describe “the search for the underlying principles that govern the behavior of our universe.” Beginning with the deceptively simple geometry of Pythagoras and the Greeks, Penrose guides readers through the fundamentals–the incontrovertible bricks that hold up the fanciful mathematical structures of later chapters. From such theoretical delights as complex-number calculus, Riemann surfaces, and Clifford bundles, the tour takes us quickly on to the nature of spacetime. The bulk of the book is then devoted to quantum physics, cosmological theories (including Penrose’s favored ideas about string theory and universal inflation), and what we know about how the universe is held together. For physicists, mathematicians, and advanced students, The Road to Reality is an essential field guide to the universe. For enthusiastic amateurs, the book is a project to tackle a bit at a time, one with unimaginable intellectual rewards.

After copying the previous whole paragraph, I just decided to end this blog entry, and continue reading. Penrose has spent eight years to finish this book, and I guess I will not finish it in three or four nights. Hey, now I’m in the pages with some Escher’s sketches in it. Well, what a purrfect weekend :).


Internet Kabel FirstMedia

September 9th, 2007 admin post in Kategori Bhawikarsu, TLKM | Comments Off on Internet Kabel FirstMedia |

PT First Media, satu perusahaan dari kelompok Lippo, menawarkan akses internet murah melalui media kabel TV (CaTV) dengan berbagai tingkat data rate, dan tingkat harga yang sesuai. Layanan internet yang sudah bisa dinikmati warga Jakarta, Surabaya, dan Denpasar ini resmi diluncurkan di Jakarta, Sabtu ini.

Chief Executive Officer (CEO) First Media, Roberto F. Feliciano kepada pers mengatakan, layanan internet tersebut sebenarnya merupakan salah satu dari tiga fasilitas yang diberikan perusahaan tersebut. Dengan mengusung nama produk TriplePlay, katanya, seorang pelanggan bisa menikmati tiga layanan sekaligus yaitu Fastnet (internet), TV Kabel, dan Datacomm (layanan data komunikasi untuk klien korporasi). Pihaknya mentargetkan pada 2009 sudah bisa menjaring sekitar satu juta rumah pelanggan.

Tarif internet yang ditawarkan First Media, katanya, cukup kompetitif karena hanya dengan membayar biaya langganan sebesar Rp99.000 (ditambah dengan harga modem Internet CaTV), pelanggan sudah bisa menikmati Internet berkecepatan hingga 384 kb/s tanpa batas.

Direktur PT First Media Harianda Noerlan optimistis pihaknya mampu menjaring pelanggan mengingat begitu besarnya pasar internet di Indonesia. Dari pengguna internet sebesar 18 juta saja, ungkapnya, saat ini baru sekitar dua juta saja yang sudah berlangganan internet. “Itu artinya banyak dari mereka yang masih mengakses internet dari tempat lain seperti dari kantor,” katanya.

Perusahaan yang baru memperoleh tambahan modal sebesar US$ 650 juta dari Group Lippo itu kini terus memperkokoh jaringan kabel optiknya. Hingga saat ini jaringan optiknya sudah mencapai sekitar 5.000 km di wilayah Jakarta, Surabaya, dan Denpasar.


4 Miliar Telepon

September 7th, 2007 admin post in Kategori Bhawikarsu, TLKM | Comments Off on 4 Miliar Telepon |

Detik — Menurut laporan The International Telecomunication Union (ITU), sambungan telepon dunia meningkat empat kali lipat jika dibandingkan satu dekade lalu. Jumlahnya kini menembus angka 4 miliar sambungan. Alasan yang mendasari lonjakan tersebut disinyalir akibat pesatnya penjualan ponsel di negara-negara berkembang.

Dalam data terakhir yang dihimpun ITU, tercatat ada sekitar 1,27 miliar sambungan telepon tetap (fixed line) dan 2,68 miliar sambungan ponsel secara global. Sementara untuk jumlah pemakainya tidak bisa dipastikan karena banyak orang terutama di negara industri punya kedua-duanya.

Padahal pada tahun 1996, jumlah pelanggan ponsel dan telepon tetap hanya kurang dari 1 miliar. Menurut Doreen Bogdan Martin, salah seorang penyusun laporan mengatakan bahwa melesatnya penggunaan ponsel berdampak negatif pada pertumbuhan telepon tetap yang semakin melambat.

Peningkatan jumlah ponsel ini, lanjut Martin, tampak jelas di negara-negara berkembang yang telah mampu menyediakan layanan ponsel yang lebih murah daripada sambungan telepon tetap. Buktinya, sebanyak 61 persen dari pelanggan ponsel berada di negara berkembang seperti India dan Cina. Jika dipadukan dalam tiga bulan pertama di tahun ini, kedua negara tersebut saja bisa menyumbangkan sekitar 200 juta pelanggan ponsel baru.

Perkembangan ini juga didukung dengan apa yang disebut industri telekomunikasi sebagai “jaringan generasi masa depan’, menggunakan jaringan telepon untuk layanan seperti televisi dan VoIP (Voice Over Internet Protocol). Namun laporan itu juga menyebutkan bahwa diperlukan persyaratan tertentu agar pemanfatannya bisa maksimal.

“Di sebagian negara, praktek perlunya lisensi akan melarang operator menawarkan layanan ‘triple play’ yang terdiri dari suara, broadband maupun televisi berbasis Internet,” imbuh Susan Schorr, yang juga tim penyusun laporan itu seperti dikutip detikINET dari Associated Press, Rabu (5/9/2007).


Brew dari Mobile-8

September 6th, 2007 admin post in Kategori Bhawikarsu, TLKM | Comments Off on Brew dari Mobile-8 |

Antara — Mobile-8 mengumumkan untuk menyediakan layanan data nirkabel content berbasis solusi Brew dari Qualcomm pada akhir tahun 2007 di Indonesia. Mobile-8 akan menjadi operator pertama di Indonesia yang menggunakan solusi Brew, dan untuk tahap pertama akan tersedia di berbagai handset ponsel low end Mobile-8 yang telah dilengkapi teknologi generasi ketiga, kata Chief Commercial Officer for Marketing and Strategy Mobile-8, Loh Ket Jiat dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis.Senior Director and Country Manager of Qualcomm Indonesia Harry K Nugraha mengatakan dengan menggunakan tehnologi Brew, handset ponsel low end dapat melakukan berbagai aplikasi seperti handset high end GSM, seperti push email dan akses berita terkini.

Harry mengatakan tehnologi Brew telah digunakan oleh operator CDMA di negara-negara seperti Jepang dan Amerika dan platform Brew ini telah ada secara default dalam chipset handset Mobile-8 yang dikeluarkan oleh Qualcomm. Sedangkan Head Of Product Development PT Mobile-8 Telecom Tbk Ronald Simanjuntak, mengatakan, aplikasi yang paling banyak digunakan oleh pengguna ponsel di Indonesia adalah untuk ringtone dan games.

Ronald mengatakan pihaknya telah menghabiskan 300.000 dolar Amerika dari Capex Mobile-8 tahun 2007 sebanyak 125 juta dolar Amerika untuk membangun infrastruktur Brew ini.


Register.Net.Id

September 6th, 2007 admin post in Kategori Bhawikarsu, TLKM | Comments Off on Register.Net.Id |

Cerita pengalaman registrasi domain .EU dan .UK (lupa di blog yang mana saja), tentu tak imbang kalau tidak sambil mendongengkan pengalaman registrasi domain .ID. Apa aku masih perlu domain? Tentu tidak. Dan karena alasan ini juga, aku menunda keisengan ini beberapa kali. Tapi akhirnya … keisengan menang.

Hasilnya? Tentu saja sukses. Yang diregistrasi cuma .WEB.ID; yang tak menuntut lebih dari salinan KTP. Tapi intinya, mekanisme kerja PANDI mulai berjalan.  OK, langkah2 yang kulakukan:

  1. Malam: Ke http://register.net.id, trus sign up account baru
  2. Aktivasi account dengan sebuah klik pada mail yang dikirim PANDI
  3. Mendaftarkan domain ***.WEB.ID
  4. Diminta mengirim salinan KTP, aku buat foto KTP dengan resolusi 640×480
  5. Tanpa editing lebih lanjut, foto KTP disubmit
  6. Pagi: Ada mail dari PANDI, meminta pembayaran ke rekening PANDI di BCA
  7. Melakukan transfer online dari e-Bank Bank Niaga ke BCA sebesar 25000 rupiah.
  8. Melakukan Print-Screen hasil transaksi di layar
  9. Hasil Print-Screen disubmit ke register.net.id
  10. Sore: Ada mail dari PANDI, domain ***.WEB.ID telah diaktifkan dengan masa laku 1 tahun.

Pasti bisa menebak domain yang aku ambil. Karena sekedar iseng, aku buat jadi redirection ke LinkedIn aja.